FirmanNya, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.". Allah SWT menjelaskan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah, yakni ujian terhadap hamba-Nya, untuk diketahui siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Firman-Nya, "Di sisi Allah-lah," yakni pada hari Kiamat, "Pahala yang YAKINLAH bahwa harta itu sebenarnya milik Allah sedangkan manusia hanya memegang amanah atau pinjaman dari-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Al Qur’an Al Karim “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah meminjamkan kepadamu,” QS Al Hadid 7 Allah lah pemilik harta benda, karena Dia yang menciptakannya dan yang menciptakan sumber produksinya serta memudahkan sarana untuk mendapatkannya. Bahkan Dia-lah yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. BACA JUGA Bahaya Harta Haram di Akhir Zaman “Dan kepunyaannya Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..,” QS An-Najm 31 “Ingatlah sesungguhnya hanya milik-Nya makhluq yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi.,” QS Yunus 66 “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam, kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya,” QS AI Waqi’ah 63-64 “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…,”QS. An-Nuur 33 “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka..,” QS Ali Imran 180 Jadi apa yang diberikan Allah kepada manusia dari karunia-Nya salah satunya adalah harta, sehingga kekuasaan manusia atas harta itu sekedar sebagai wakil, bukan pemilik aslinya. Jika manusia adalah sebagai amin yang dipercaya untuk memegang harta dan sebagai wakil, maka tidak boleh bagi manusia untuk menyandarkan harta itu pada dirinya dan mengatasnamakan keutamaan itu sebagai atas jerih payahnya. Sehingga ia mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang kafir, “Ini adalah milikku” Fushshilat 41. Atau mengatakan seperti yang dikatakan oleh Qarun, “Sesungguhnya aku diberi harta itu, hanya karena ilmu yang ada padaku” Al Qashash 78. Demikian juga tidak diperbolehkan bagi manusia untuk menyibukkan dirinya dengan harta itu, tanpa melibatkan keluarga dari pemilik aslinya, karena seluruh makhluq adalah keluarga Allah. Hal ini berarti ia telah melupakan kedudukan dan fungsi harta itu. Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan di dalam tafsirnya, “Sesungguhnya orang-orang fakir itu adalah keluarga Allah dan orang-orang kaya itu khuzzanullah yang menyimpan harta Allah, karena harta yang ada di tangan mereka adalah harta Allah. Seandainya Allah SWT tidak memberikan harta itu di tangan mereka, niscaya mereka tidak memilikinya sedikit pun. Maka bukan sesuatu yang aneh jika ada seorang raja berkata kepada bendaharanya, “Berikan sebagian dari harta yang ada di gudang kepada orang-orang yang membutuhkan dari hamba-hamba sahayaku.” BACA JUGA Waspada, Ini 5 Sikap Tercela Terhadap Harta Wajib bagi manusia yang mengemban amanat harta terikat dengan instruksi pemiliknya dan melaksanakan keputusannya serta tunduk terhadap arahan-arahan-Nya dalam memelihara dan mengembangkannya, dalam menginfakkan dan mendistribusikannya. Bukan berkata seperti yang dikatakan oleh penduduk Madyan kepada Nabi Syu’aib AS “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. ,” QS Huud 87 Hal itu merupakan bantahan mereka ketika Syu’aib menasehati mereka, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik mampu dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan kiamat, hai kaumku, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan rnanusia terhadap hak-hak mereka janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan,” QS Huud 84-85 Mereka mengira bahwa pemilikan harta itu memperbolehkan bagi mereka untuk bebas berbuat semaunya, walaupun hal itu bertentangan dengan norma-norma akhlaq atau tidak memperhatikan kepentingan masyarakat, dengan alasan bahwa, “Ini harta kami, maka kami menggunakannya terserah kemauan kami.” Islam telah menegaskan bahwa harta adalah milik Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya. BACA JUGA Harta Paling Utama Ketimbang Emas dan Perak Allah mengamanahkan kepada mereka harta itu untuk melihat bagaimana mereka berbuat, maka apabila mereka tidak beriltizam dengan perintah-perintah Allah berarti mereka telah melanggar batas-batas perwakilan. Sehingga harta itu harus diambil secara paksa atau tangan mereka dipukulkan ke batu. Dengan kaidah emas ini, maka Islam maju dalam beberapa kurun abad dalam perekonomian dan kesejahteraan sosial. Islam telah jauh mendahului apa yang digembar-gemborkan oleh sebagian ilmuwan ilmu sosial Barat bahwa sesungguhnya pemilikan itu tugas sosial, dan sesungguhnya orang yang kaya itu harus mengikuti sistem sosial yang ada. Meskipun kata-kata ini sama sekali tidak sebanding dengan ajaran yang ada dalam Al Qur’an. [] Referensi Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan Sunnah/DR. Yusuf Al-Qardhawi/ 1997/ Citra Islami Press Danketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Manusia dibekali beragam tanggungjawab. Ia juga berpotensi untuk berhasil ataupun gagal dalam mengemban amanah di serangkaian usia yang diberikan Allah SWT untuknya. Tanggung jawab ada yang bersifat Perandan tanggung jawab manusia sebagai kholifah di muka bumi A. Ayat-ayat tentang kedudukan manusia 1. At-Tiin : 4 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . 2. Arradu : 11 bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di

AlBaqarah: 275) Selain ayat Al Quran diatas, masih ada banyak sekali dalil hadits tentang riba seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Insyaallah bisa menjadi pedoman dalam kehidupan sehari hari, contohnya dalam sistem transaksi jual beli, dalam pinjam meminjam (hutang piutang), barter/pertukaran barang dan lain sebagainya. Jangan

TEKSBAHASA MALAYSIA Sesungguhnya di dalam neraka Jahannam itu ada satu lembah, dan di dalam lembah itu ada satu perigi yang disebut sebagai Habhab. Menjadi hak ke atas TEKS BAHASA ARAB إن في جهنم وادياً، وفي الوادي بئر يقال له: هبهب، حقاً على الله أن يسكن فيه كل جبار عنيد.
_Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."_ (QS. Al Baqarah: 261)".
SuratAl Kahfi ini juga memiliki keunikan yang lain di mana dalam surat Al Kahfi Allah SWT memberi penjelasannya tentang Yakjuj dan Makjuj. Oleh karena itu Surat Al Kahfi dinamakan juga suratnya ilmu akhir zaman di mana petunjuk akhir zaman ada dalam surat ini. Dalam Hadist Riwayat Muslim Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa "ujian dan cobaan Nabishallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dia ada di surga Firdaus yang tinggi." (HR. Al Bukhari) ———————- "Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada' itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di 'Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu.

Terlihatjelas di pelupuk mata orangtuanya pelangi itu, apalagi saat pelangi itu ada di tempat yang jauh. Sehingga kerinduan pada anak-anak begitu membuncah. bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. " (Qs. Al Anfal: 28)

.
  • gg4sirs4b2.pages.dev/41
  • gg4sirs4b2.pages.dev/469
  • gg4sirs4b2.pages.dev/32
  • gg4sirs4b2.pages.dev/208
  • gg4sirs4b2.pages.dev/128
  • gg4sirs4b2.pages.dev/435
  • gg4sirs4b2.pages.dev/272
  • gg4sirs4b2.pages.dev/457
  • sesungguhnya di dalam hartamu itu ada