Pertama ternyata kisah dalam novel ini terinspirasi dari penculikan aktivis di pengujung masa orde baru. Dari penculikan yang diungkap, ada sembilan aktivis yang telah
Jalan Kramat VII. ©2017 w - Siang itu Jalan Kramat VII, Jakarta Pusat nampak seperti hari-hari biasanya. Jelang jam makan siang, belasan karyawan mengenakan baju batik hilir mudik mencari santapan. Semua tampak semringah tanpa ada rasa ngeri atau Kramat VII ternyata menyimpan cerita gelap. Di ujung jalan ini dulunya merupakan tempat penyiksaan para aktivis era Orde Baru. Di zaman itu, jalan itu masih bernama Kramat V. Banyak aktivis menjuluki tempat itu 'Kremlin', yang merupakan akronim dari Kramat Lima. Tempat dijuluki 'Kremlin' dulunya adalah tiga rumah di Jalan Kramat V, yakni nomor 14, 16, dan 18. Sebelum pecah Gerakan 30 September G30S tahun 1965, tiga rumah itu adalah kantor Dewan Nasional Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia SOBSI. Kantor itu lantas diambil alih oleh militer dan disulap menjadi markas unit Pelaksana Khusus Kopkamtib Laksus Kopkamtib, dibentuk oleh Soeharto pada 10 Oktober 1965. Dipimpin Ali Murtopo, organisasi itu bertugas 'menjaga' stabilitas politik Orde Baru. Pada 1988, Soeharto membubarkan Kopkamtib dan menggantinya dengan badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional Bakorstranas.Dalam buku, Neraka Rezim Suharto, Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru' karya Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Kremlin menjadi salah satu tempat paling menakutkan di era Orde Baru. Banyak aktivis yang pernah merasakan pedihnya tempat ini, mulai dari yang dituduh terlibat G30S hingga para aktivis 1998. Siksaan seperti setruman listrik, sundutan rokok, dan digebuki hingga babak belur selama 'interogasi' menjadi sarapan pegiat sosial politik diculik ke tempat itu. Biasanya dalam satu ruangan lebih dari satu tentara yang 'membina' mereka yang dianggap melenceng dari pakem stabilitas negara. Jalan Kramat VII ©2017 w Suwardi 75, warga Jalan Kramat VII bercerita dulunya tempat tersebut memang dijadikan tempat penyiksaan aktivis dan orang-orang yang diduga terlibat PKI. Namun dia mengaku tak tahu banyak karena baru tinggal di Kramat V sekarang jadi Kramat VII sejak 1980. "Dulu memang di situ tempat penangkapan dan penyiksaan aktivis dan PKI," ujar Suwardi Senin 27/2 lokasi penyiksaan itu bangunannya dinamai Griya Kramat VII. Itu tertera di gapuranya."Dulu di situ seberang Gereja Eben Haezer ada pos TNI. Di situ selalu dijaga anggota TNI, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana," ujar Jalan Kramat VII terlihat rapi dan mentereng. Di kanan kiiri jalan itu berdiri bangunan tinggi dan rumah-rumah mewah. Jauh dari kesan ngeri saat menyambanginya. "Dulu copet, calo terminal sampai pejudi yang ditangkap dibawa ke sini. Mereka disuruh lari dari belakang Griya Kramat VII sampai Jalan Kramat Raya. Mereka disiksa fisik sebelum besoknya boleh pulang," ujar sayang, saat menyambangi Griya Kramat VII seorang pria tua beruban dengan gigi ompong sudah mencegat. Pria itu menanyakan maksud dan tujuan bertandang ke ujung Jalan Kramat VII itu."Kalau mau wawancara harus ada surat dari keterangan dan pengantar dari Kodam. Kalau enggak ada surat itu, bisa-bisa situ yang diwawancara," ujar pria yang tak mau disebutkan namanya itu memang membenarkan bahwa Griya Kramat VII dulunya memang kantor SOBSI, tetapi sudah diambil alih oleh militer. "Dulu jadi kantor Intel Kodam Jaya. Kalau mau ke situ mau wawancara harus ada izin dulu dan minta surat permohonan. Enggak bisa datang langsung wawancara," ujar pria itu. Jalan Kramat VII ©2017 w Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah BPAD Provinsi Jakarta pernah menerbitkan ulasan 'Jakarta Kota Seribu Penjara'. Jakarta memang banyak tempat-tempat yang dijadikan penjara dan penyiksaan. Namun kini kebanyakan tempat kelam itu sudah berubah fungsi. Rumah tahanan Nirbaya Taman Mini Indonesia Indah misalnya, tempat yang pernah digunakan untuk menahan Hariman Siregar dan Rahman Tolleng usai Malapetaka Lima Belas Januari Malari 1974 ini sudah Besar Tentara Nasional Indonesia di Cilangkap merupakan bekas sekolah pertanian milik Barisan Tani Indonesia. Tempat ini juga pernah digunakan untuk menyiksa anggota PKI. Rumah Tahanan Wanita Bukit Duri, dulunya adalah tempat penyiksaan anggota Gerakan Wanita Indonesia, tetapi kini telah menjadi pertokoan. Tidak banyak orang tahu bahwa banyak aktivis perempuan yang pernah disiksa di tempat itu. Rumah Effendi Saleh, mantan aktivis Serikat Buruh Unilever, pada tahun 1960-an juga diambil tentara dan dijadikan tempat penyiksaan. Sekarang rumah itu sudah dibeli oleh Rumah Sakit Saint Carolus satu tempat penyiksaan yang paling sadis adalah rumah di Jalan Gunung Sahari IV, Jakarta Pusat. Tempat itu dinamakan 'Kalong', yang diambil dari nama Tim Operasi Kalong yang tugasnya memburu anggota PKI. Gedung warna putih dengan arsitek Eropa abad pertengahan di Jatinegara Jakarta Timur juga menjadi salah satu tempat penyiksaan yang terkenal pada tahun 1965. Dulunya, tempat itu adalah kantor Bupati Mester. Kini tempat itu menjadi kantor Komando Distrik Militer 0505, Jakarta Timur. Di belakang gedung itu terdapat rumah-rumah penduduk yang dulu dijadikan kamar tahanan. Namun kini tempat itu akan dijadikan cagar budaya Pemerintah Provinsi DKI lain yang dulu merupakan rumah penyiksaan adalah kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Komnas HAM di Jalan Latuharhary Nomor 4B, Menteng, Jakarta Pusat. Pada masa itu tempat ini merupakan kantor Lembaga Sandi Negara. Dulunya dalam rumah ini banyak terdapat sel dari jeruji juga tempat lain di Jakarta yang pernah menjadi tempat penyiksaan bagi para aktivis dan tentara masa penjajahan. Tempat itu tersebar antara lain Jalan Gunung Sahari, Jalan Guntur, di Cimanggis, Jalan Budi Kemuliaan, Jalan Budi Utomo, Lapangan Banteng, Kebayoran Lama, Kodim 'Air Mancur' yang sekarang menjadi Gedung Indosat, dan Bukit Duri. [hhw]Baca jugaAM Fatwa, dihajar Orde Lama dipenjara Orde BaruSejarah hitam Gang BuntuAnak Wiji Thukul menagih janji JokowiMereka yang hilang saat tragedi 98Korban penculikan Kejahatan Prabowo itu nyataPartai peninggalan Orba di tanah Pemprov DKI JakartaAwal mula 'persaudaraan' Soeharto dan konglomerat Liem Sioe LiongIni pengakuan CIA atas tragedi 30 September di Indonesia Salahsatu sumber dari penulisan novel ini adalah tulisan Nezar yang dimuat dalam waktu singkat pada bulan Februari tanggal 4 2008, yang berjudul “Di kuil Penyiksaan Orde Baru” yang
Nezar Patria tak mengira bakal diculik aparat rezim tiranis. Saat hari sial 20 tahun dahulu itu menyergah, usianya belum lagi 28. Rasa terharu dan terketuk nomplok gelambir. Maut berkelebat di benak. “Masa diambil, enggak ada yang adv pernah. Batin kembali waktu itu merasa bahwa apa yang ditakutkan terjadi. Seperti melihat mendung dan menduga apakah hujan atau bukan, dan beliau merasakan ini hujan abu betul datang. It happens,” ujarnya, Paru-paru 9/5/2018, tentang malam 13 Maret 1998. Ingatan mengenai gambar-gambar terperinci penyiksaan terhadap “momongan-anak Korea Daksina, momongan-anak di Palestina, anak asuh-anak di Filipina yang melawan Marcos” nan perikatan dibacanya rempak berebut ke permukaan. Semua tulang beragangan melulu memproyeksi kesakitan. “Kalaupun disikat, dieksekusi, nan lain sakit gimana caranya. Yang cepat aja. Mungkin ditembak. Tapi, katanya kalau ditembak 10 detik masih terasa ngilu. Seandainya disayat-sayat, itu lindu banget. Lamunannya kadang kala sejenis itu,” katanya. Engkau dan tiga rekannya–Mugiyanto, Petrus Bima Anugrah, Aan Rusdianto–baru lalu 10 musim di lokasi penculikan, ialah ubin dua Rumah Susun Klender, Jakarta Timur. Mereka semua anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia bagi Demokrasi SMID yang usai Peristiwa 27 Juli 1996 diburu aparat. Kisah tentang saat penculikan tersebut kekal dalam kesaksian tertulis. Nezar mengetik kesaksian itu dengan komputer jinjing yang dipinjamkan organisator KontraS, almarhum Munir Said Thalib, sehabis dilepas dari bui . Pada 7 Juni 1998, dia menyiarkan pembuktian itu kepada khalayak dalam program jumpa pers di maktab Yayasan Rang Bantuan Hukum Indonesia YLBHI. Testimoni kebal urut-urutan penculikan dan detail penyiksaan. Proses ambil-paksa yang tidak bertele-tele tereka gamblang. Begitu pun bodi para penculik empat praktisi merangsek ke kamar; empat anak adam tak dikenal yang mengaryakan penutup penasihat; empat oknum yang lantas menggeretnya–pun Aan–ke arah jip ber-AC. Catur yang lantas diketahui merupakan bagian berusul Cak regu Mawar, Komando Pasukan Spesial. Gari meringkus tangan mereka. Tiras hitam, indra penglihatan mereka. “Nada diputar sepan gigih” hingga menafikan kuping dua sejawat itu untuk membikin sketsa mental lalu-lintas di kronologi. “Ada kepasrahan nan luar absah,” kata pria kelahiran Sigli, Aceh, pada 1970 itu mengenangkan. “Betul-betul enggak berkemampuan. Sambil membayangkan semoga terserah kehebatan, mukjizat-mukjizat. Kiranya Soeharto besok mati. Semoga Soeharto besok tumbang dan semua ini nongkrong”. Faktanya, Soeharto baru saja ditetapkan andai presiden n domestik Sidang Umum Majelis Permusyarawatan Rakyat SU MPR pada 10 Maret 1998. Itu kali ketujuh dia memimpin Indonesia. Kalau tak memanjang sreg 21 Mei 1998, Soeharto kelak memerintah hingga 2003. Nezar Patria karenanya hanya bisa “berdoa dan berzikir”. Selama dua tahun mendekam internal gedek penindasan, tubuhnya niscaya berkali-boleh jadi memproduksi dan menggudangkan rasa sakit. Dan mungkin, sempelah remai pada raga itu habis hingga bertahun-musim berikut. Keadaan yang sungguh lumrah, menghafaz teoretis penindasan nan masin lidah. Berikut secuil etape penyiksaan itu, seperti terimbuh n domestik validasi “Sebuah benda terasa menempel di betis dan paha saya, dan sebuah aliran listrik yang patut langgeng meruntun seluruh trik bodi saya. Saya berteriak “Allahu akbar!” sambil membantut rasa sakit yang luar biasa. Diseminasi listrik itu menyerang bertubi-tubi, sehingga tubuh dan kursi yang saya duduki bergeletar. Saya merasa sebuah tendangan berkanjang menghantam dada saya sampai saya terjengkang ke pantat dan kursi bekuk wadah saya duduk makara ringsek.” Pada Minggu 15/3/1998, ikatan penyiksaan “di tempat X”, lokasi yang dia istilahkan sebagai “kuil penindasan Orde Baru”, bangunan nan lantas diketahui terdapat di Cijantung, dihentikan. Dia cuma alpa semangat rekan-rekannya seperti mana Mugiyanto, Aan, dan juga Herman Hendrawan yang juga diculik dan dibawa ke lokasi penyekapan. Lebih lagi, nama disebut terakhir hingga waktu ini masih hilang. Bagi Nezar, Herman–sekali lagi Petrus Bima Anugrah–merupakan dua manusia yang paling intim dengannya di antara mangsa penculikan tidak yang tak tandang sekali lagi. Keduanya dari Universitas Airlangga, Surabaya. Bersumber Cijantung, Nezar Patria menuntut ganti rugi episode baru. Dia dijebloskan ke penjara isolasi di kwartir Kepolisian Daerah Metro Jaya. Pihak berhak mengenainya dugaan tindak pidana subversi. Di sana, tubuhnya tak sekali lagi mengakui azab. “Kurungan di basement. Blok buat perompak-perompak kelas berat kayak pembunuh, perampok. Tapi, di sel sebesar itu, kami ditempatkan sendirian,” tutur pejabat redaksi The Jakarta Post langsung anggota Dewan Pers itu. Kamar prodeonya diimpit kurungan-lokap bromocorah. Tapi, di situ tahanan strategi dianggap berkasta tingkatan. Perasaan segan lapangan-lapangan terbit intern diri tahanan enggak. Rasa hormat baginya mewujud n domestik bentuk sapaan rutin, walau sahaja kata “pamit”. Bahkan, anak adam di sebelah lokap Nezar, yang dikurung setelah “ranggah seorang anggota TNI sampai meninggal”, afiliasi mengangsurkan kepadanya makanan tentengan dari pembesuk. Puas dasawarsa 1990-an, Nezar Patria, 47 hari, aktif mengalir di pelbagai organisasi mahasiswa. Saat aparat rezim Suharto menculiknya pada Maret 1998, dia menjabat Sekretaris Jenderal Kesetiakawanan Mahasiswa Indonesia kerjakan Demokrasi SMID. Bismo Agung / “Saya buka nasi bungkus hangat itu. Isinya semur jengkol. Di daerah saya, bukan normal itu, jengkol atau pete. Tapi, pasca- saya cicipi, rasanya kayak kentang. Itu makanan terenak nan pernah saya makan di sel itu. Ha-ha-ha,” katanya. Dia sejumlah mayapada di penjara terbalik-balik, “yang kita kira jahat, kok bintang sartan baik. Yang kita kira baik, kok buas”. Persis puisinya nan berjudul “Di Video Game”, ditulis puas 2022 Jiwa hanya sehimpun piksel/baik dan jahat bertukar wadah/dengan pengunci bukan mohon dikenang. Setelah dua wulan mengendon dan kurang sebulan sebelum dibebaskan, Nezar Patria mendengar lagu “Ringgis Anak uang” diputar radio. Firasatnya mengatakan ada mahasiswa mati. Dugaan itu enggak salah. Tes lelayu diberikan penjaga blok interniran. Air matanya sontak meleleh. Lebih semenjak sepekan kemudian, radio yang sebanding melantangkan maklumat lain. Kali ini, berita pengunduran diri Soeharto. Manah Nezar Patria campur aduk. “Aku sih penginnya ada di situ menyinkronkan mahasiswa, karena itu Soeharto tumbang bahkan nan sudah lama ditunggu-tunggu,” ujarnya. Zaman bergerak Jalan yang kelak memandu Nezar Patria berhadap-pangkuan serampak dengan wajah rezim yang nilik kekerasan bermula puas 1989. Pada tarikh itu, Aceh mulai dikenai status Daerah Operasi Militer Gereja oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut merupakan respons atas persuasi Gerakan Aceh Merdeka GAM menuntut otonomi berpunca Indonesia. Nezar bilang, Aceh tidak nyaman. Kekerasan di mana-mana. Mahajana pening. Tambahan pula, dia pernah diminta koteng tetangga lakukan melepas kaus oblong bertulis “Texas A&M University” saja karena ada singkatan A&M, yang dapat dibaca sebagai Aceh Merdeka. “Tapi, kami enggak pernah tahu bagaimana narasi sememangnya. Semua orang takut,” ujarnya. Merasa kalam semacam lompatan, di perian itu pula dia bertolak ke Yogyakarta–kota nan dipilih semata karena dia jatuh cinta penulis-katib berdomisili di sana, terdaftar Emha Ainun Nadjib. Di kota itu, dia berkuliah di Fakultas Filsafat Perguruan tinggi Gadjah Mada UGM. Di kota itu pula Nezar karenanya tahu banyak tentang apa yang sememangnya terjadi di petak kelahirannya. Berpangkal gegana kesultanan ke udara sultanat. Waktu membuktikan situasi Yogyakarta lebih pas bikin Nezar belia untuk menajamkan olah pikir dan membangun kecakapan berorganisasi. Dengan serta-merta, dia menyatu ke beberapa perkumpulan kemahasiswaan seperti Jemaah Shalahuddin UGM 1990-1991 dan Biro Pers Mahasiswa Filsafat UGM, Pijar 1992-1996. Sira juga mengikuti Kerubungan Studi Plaza Fisipol UGM. Persuaan dengan banyak orang dan gagasan lantas membawanya ke ranah aktivisme garis haluan. Segalanya diawali perjumpaan dengan Andi Munajat, sosok penting yang membangun gerakan kerakyatan di Yogyakarta. Andi berarti internal pendirian keramaian ekstrakampus progresif, Kebersamaan Mahasiswa Indonesia buat Demokrasi SMID, poyang Partai Rakyat Demokratik PRD. “Ia orang unik, tidur di Sekretariat Kampus. Selalu dukung tas kecil isi peralatan mandi. Sira nan bilang ke saya, Jangan cuma baca buku aja, berputar dong. Semua hamba allah bisa baca buku, tapi dunia ini berubah’,” katanya adapun tokoh Mercu tersebut. Plong 1993, Andi Munajat merupakan Sekretaris Jenderal SMID hasil rapat kerja di Yogyakarta. Setahun kemudian, posisi itu diduduki Fernando Manulang. Nezar Patria kebagian menempati pos politis tersebut pada 1996. Usai Orde Hijau jebluk, Nezar Patria mengidas menjadi juru kabar. Dia afiliasi berkreasi cak bagi Tempo, dan CNNIndonesia. Kini, dia pemimpin sidang pengarang di media beristiadat Inggris di Jakarta, The Jakarta Post. Bismo Agung / Terbit sudut pergerakan mahasiswa ketika itu, SMID menjadi semacam jawaban atas tidur panjang operasi mahasiswa menyusul garis haluan Normalisasi Umur Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan NKK/BKK yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, plong pengunci dekade 1970-an. “Musim itu suasananya sangat politis, dulu intelektual. Suka-suka gairah, ada sesuatu. Dan itu semua dirasakan oleh semua mahasiswa. Mulai ’90 lah, auranya sudah aura gerakan, bahwa kita harus membentuk sesuatu,” ujar Nezar. Orde Baru, menurutnya, “mulai merentang pembusukan diri”. Awam kian terdidik, tapi belum tentu bisa mendapatkan posisi strategis tersebab maraknya kronisme. Kritik ditampik dengan diktator. Di kemudian waktu, sejumlah media berwibawa seperti Tempo, Detik, dan Editor dibredel. Lalu, “tutul miring memusat gerakan yang kian betul-betul–karena taruhannya, kerakyatan alias tenang,” sebut Nezar, adalah kerusuhan 27 Juli 1996 yang dikenal dengan akronim Kudatuli. Pada tanggal itu, kantor DPP Puak Kerakyatan Indonesia nan dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri diambil alih secara paksa oleh partisan Soerjadi. Pendudukan dibantu aparat kepolisian dan TNI. Peristiwa itu membuahkan kerusuhan di sejumlah kawasan di Jakarta Pusat. Beberapa media dan gedung gosong. Pemerintah mengumumkan PRD inisiator kerusuhan. Ketua umumnya saat itu, Budiman Sudjatmiko, ditangkap. “Sejak itu, kami turut DPO daftar pencarian orang dan mulai bergerak dengan syarat-syarat underground. Ubah KTP. Tanda ganti. Ada banyak nama. Di tiap kota beda-selisih,” katanya. Saat menjadi buron salah satu pemerintahan terkuat Asia, Nezar Patria terputus sangkut-paut dengan orang tuanya. Jika ingin berinteraksi dengan mereka, sira mengaryakan perantaraan Siti Murtiningsih, perempuan yang waktu ini menjadi istrinya. “Selama dua periode itu 1996-1998, boleh dibilang ketemu Siti mungkin cuma dua-tiga kali perian saya ke Jogja. Atur perjumpaan di mana, gitu. Itu pun cuma sebentar. Tidak sampai satu jam,” ujarnya. Reformasi kekesalan Nezar Patria mengidas menjadi wartawan usai menerobos perian-tahun penuh gejolak, dan patok historis bernama Reformasi. Anda pernah berkarya di D&R, berkarier di majalah Tempo, timbrung mendirikan masa ini, dan masuk meraun Pada 2008-2011, beliau ketua umum Kombinasi Jurnalis Independen AJI, organisasi profesi nyamuk pers yang samar muka pada 1994 sebagai perlawanan peguyuban pers Indonesia atas ketidakadilan rezim Soeharto. Setelah nonblok dari narapidana puas 1998, Nezar Patria menanggalkan jubah aktivisme dengan panjang usus, seraya tetap menyimpan pelbagai jurus politik yang direngkuhnya saat bergiat di tanah lapang. Pada titik tertentu profesinya, jurus-jurus itu justru berguna. “Meliput politik, kita kayaknya lebih tahu jeroannya gimana. Secara instingtif, kita juga makin terasa mana yang palsu atau genuine,” ujarnya. Sudah sedemikian itu, intuisi untuk melihat situasi tertentu juga lebih radikal. “Apakah ini rekayasa, apakah ini genuine. Dengan cepat, kita bisa menciumnya,” katanya. Sejenang lagi, dia mungkin bakal dicap penyair. Sebab, kiat kumpulan puisinya hendak dilempar ke pasar. Berbekal pengalaman bak aktivis dan beritawan, Nezar Patria berani berkata bahwa momen ini Perombakan malah mengapalkan “lebih banyak kekecewaan,” di luar persilihan bermanfaat intern beberapa ihwal, semisal, “kebebasan pers” maupun “kemerdekaan berpolitik”. Putra Sjamsul Despotis, pemimpin publik Atrium Indonesia, itu mengungkai suatu masalah yang hingga kini masih kuat menjerat Indonesia ketimpangan. “Segala gunanya kebebasan kalau lembah antara mereka yang dapat mengakses keberlimpahan besar. Sementara kelompok lain untuk dapat kesehatan yang baik aja musykil. Momongan-anak stunting masih banyak di Indonesia timur. Air bersih runyam. Akses ke pendidikan jomplang,” kata Nezar. Selain itu, sebagai keburukan lain, dia memandang kian banyak orang nan masa demi hari kian menjarang dari logika hidup bersama perumpamaan “sebuah nasion, sebuah bangsa Indonesia”. “Kok sekarang sederajat yang berbeda itu semakin tajam perbedaannya, kebenciannya. Saya buncah masa sekarang ini bahkan makin buruk keadaannya terbit, misalnya, sebelum merdeka dan masa-tahun Orde Lama dan Orde Mentah,” pembukaan figur yang boleh menangis saat mendengar lagu “Indonesia Raya” itu.
di kuil penyiksaan orde baru
Rakyattidak diberikan kesempatan untuk mengoreksi jika di tengah pembangunan nasional ada sesuatu yang salah. Koreksi dianggap ancaman dan menghambat pembangunan. Hal ini dapat diamati pada masa orde baru berupa penculikan para aktifis. Saat orde reformasi pun suara rakyat yang menginginkan kembali penegakan syariah Islam mulai dibungkam.
Kolase/Intisari Ilustrasi - Peristiwa Pemilu kelima pada masa Orde Baru. - Tanggal 9 Juni 1992 menjadi hari dimana Indonesia kembali menggelar pemilihan umum pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR dan Dewan Perwakilan Daerah DPD. Pemilu ini adalah pemilu yang kelima pada masa Orde Baru dan yang keenam sejak Indonesia merdeka. Pemilu pada masa Orde Baru diselenggarakan dengan prinsip LUBER, yaitu langsung, umum, bebas, dan rahasia. Namun, kenyataannya, pemilu tersebut tidak demokratis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain 1. Penyederhanaan partai politik. Pada masa Orde Baru, hanya ada tiga organisasi peserta pemilu OPP, yaitu Partai Persatuan Pembangunan PPP yang mewakili kalangan Islam, Partai Demokrasi Indonesia PDI yang mewakili kalangan nasionalis-demokrat, dan Golongan Karya Golkar yang mewakili kelompok non-partai. Penyederhanaan partai politik ini bertujuan untuk menghapus konflik ideologi dan memperkuat stabilitas politik di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. 2. Dominasi Golkar. Golkar merupakan organisasi yang didukung oleh pemerintah, militer, birokrasi, dan berbagai kelompok profesi di masyarakat. Golkar memiliki keunggulan dalam hal sumber daya, fasilitas, dan akses media. Selain itu, Golkar juga melakukan berbagai praktik kecurangan, intimidasi, manipulasi, dan mobilisasi pemilih. Baca Juga Penjelasan Persamaan dan Perbedaan Antara Pemilu Pertama Tahun 1955 dengan Pemilu Tahun 2014 PROMOTED CONTENT Video Pilihan
DiKuil Penyiksaan Or de Bar u Dalam dokumen TEMPO EDISI KHUSUS SOEHARTO (Halaman 92-95) ERISTIWA it u t erjadi sepuluh t ahun lalu, t api semuanya masih t et ap basah dalam ingat Saat itu, Maret 1998, politik Indonesia sedang panas. Di tengah aksi protes mahasiswa, Sidang Umum MPR kembali mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI. Di kampus, gerakan menentang rezim Orde Baru kian marak. Setiap hari, kemarahan membara di sekujur negeri. Kota-kota dibungkus selebaran, spanduk, dan poster. Indonesia pun terbelah pro atau anti-Soeharto. Sejak dituding sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996 tapi tak pernah terbukti di pengadilan, SMID dan semua organisasi yang berafiliasi ke Partai Rakyat Demokratik PRD dinyatakan oleh pemerinah sebagai organisasi terlarang. Sejak itu, hidup kami terpaksa berubah. Kami diburu aparat keamanan Orde Baru. Maka, tak ada jalan lain kecuali bergerak gaya bawah tanah. Nama asli berganti alias. Setiap kali berpindah rumah, harus menyaru sebagai pedagang buku atau lainnya. Tapi petualangan bawah tanah itu berhenti pada 13 Maret 1998. Malam itu, sekitar pukul tujuh, saya baru saja pulang dari Universitas Indonesia, Depok. Ada rapat mahasiswa sore itu di sana. Aan, mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang sudah berada di rumah. Setelah mandi, saya menjerang air. Mugiyanto berjanji pulang satu jam lagi, dan dia akan membeli makan malam. Sementara, Bima Petrus berpesan pulang agak larut. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Begitu Aan membuka pintu, empat lelaki kekar merangsek masuk. Mereka menyergap dan memiting tangan Aan. Saya kaget. Sekelebat saya melongok ke arah jendela. Kami berada di lantai dua, dan di bawah sana sejumlah “tamu tak diundang” sudah menunggu. Mereka memakai seibo penutup wajah dari wol, tapi digulung sebatas tempurung kepala. Wajah mereka masih terlihat jelas. “Mau mencari siapa?” tanya saya. “Tak usah tanya, ikut saja,” bentak seorang lelaki. Setelah mencengkeram Aan, dua lainnya mengapit saya. Kami digiring menuruni tangga. Saya agak meronta, tapi dengan cepat seseorang mencabut pistol. Sekejap, kesadaran saya bicara saya diculik! Dan dua mobil Kijang sudah menunggu di bawah. Di dalam mobil, mata saya ditutup kain hitam. Lalu mereka menyelubungi kepala saya dengan seibo itu. Saya juga merasa mereka melakukan hal yang sama pada Aan. Dompet saya diperiksa. Sial, mereka mendapat KTP saya dengan nama asli. “Wah, benar, dia Nezar, Sekjen SMID!” teriak salah satu dari mereka. Di mobil, mereka semua bungkam. Kaca tertutup rapat. Lagu house music diputar berdebam-debam. Lalu kendaraan itu melesat kencang, dan berhenti sejam kemudian. Tak jelas di daerah mana. Terdengar suara handy talkie mencicit, “Merpati, merpati.” Agaknya itu semacam kode mereka. Rupanya, mereka meminta pintu pagar dibuka. Mata kami masih tertutup rapat saat digiring masuk ke ruangan itu. Pendingin udara terasa menusuk tulang. Terdengar suara-suara orang, mungkin lebih dari 10 orang. Saya didudukkan di kursi. Lalu, mendadak satu pukulan melesak di perut. Setelah itu, menyusul bertubi-tubi tendangan. Satu terjangan keras mendarat di badan, sampai kursi lipat itu patah. Bibir terasa hangat dan asin. Darah mengucur. Setelah itu, saya dibaringkan ke velbed. Tangan kiri diborgol dan kaki diikat kabel. Mereka bertanya di mana Andi Arief, Ketua Umum SMID. Karena tak puas dengan jawaban, alat setrum mulai beraksi. Dengan garang, listrik pun merontokkan tulang dan sendi. “Kalian bikin rapat dengan Megawati dan Amien Rais, kan? Mau menggulingkan Soeharto kan?” tanya suara itu dengan garang. Absurd. Saat itu, kami mendukung Mega-Amien melawan kediktatoran. Tapi belum pernah ada rapat bersama dua tokoh itu. Saya tak banyak menjawab. Mereka mengamuk. Satu mesin setrum diseret mendekati saya. Lalu, kepala saya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada. “Allahu akbar!” saya berteriak. Tapi mulut saya diinjak. Darah mengucur lagi. Satu setruman di dada membuat napas saya putus. Tersengal-sengal. Saya sudah setengah tak sadar, tapi masih bisa mendengar suara teguran dari seorang kepada para penyiksa itu, agar jangan menyetrum wilayah dada. Saya merasa sangat lelah. Lalu terlelap. ENTAH pukul berapa, tiba-tiba saya mendengar suara alarm memekakkan telinga. Saya tersentak. Terdengar suara Aan meraung-raung. Ini mungkin kuil penyiksaan sejati, tempat ritus kekerasan berlaku tiap menit. Alarm dibunyikan tiap kali, bersama tongkat listrik yang suara setrumannya seperti lecutan cambuk. Saya juga mendengar jeritan Mugiyanto. Rupanya, dia “dijemput” sejam setelah kami ditangkap. Hati saya berdebar mendengar dia dihajar bertubi-tubi. Sekali lagi, mereka ingin tahu apa betul kami terlibat konspirasi rencana penggulingan Soeharto. Selama dua hari tiga malam, kami disekap di tempat itu. Penyiksaan berlangsung dengan sangat metodis. Dari suara alarm yang mengganggu, pukulan, dan teror mental. Pernah, setelah beberapa jam tenang, mendadak kami dikejutkan tongkat listrik. Mungkin itu tengah malam atau pagi hari. Tak jelas, karena mata tertutup, dan orientasi waktu hilang. Selintas saya berpikir bahwa penculik ini dari satuan profesional. Mereka bilang, pernah bertugas di Aceh dan Papua segala. Klik. Suara pistol yang dikokang yang ditempekan ke pelipis saya. “Sudah siap mati?” bisik si penculik. Saat itu mungkin matahari sudah terbenam. Saya diam. “Sana, berdoa!” Kerongkongan saya tercekat. Ajal terasa begitu dekat. Tak seorang keluarga pun tahu bahwa hidup saya berakhir di sini. Saya pasrah. Saya berdoa agar jalan kematian ini tak begitu menyakitkan. Tapi “eksekusi” itu batal. Hanya ada ancaman bahwa mereka akan memantau kami di mana saja. Akhirnya kami dibawa ke suatu tempat. Terjadi serah-terima antara si penculik dan lembaga lain. Belakangan, diketahui lembaga itu Polda Metro Jaya. Di sana kami bertiga dimasukkan ke sel isolasi. Satu sel untuk tiap orang dengan lampu lima belas watt, tanpa matahari dan senam pagi. Hari pertama di sel, trauma itu begitu membekas. Saya takut melihat pintu angin di sel itu. Saya cemas, kalau si penculik masih berada di luar, dan bisa menembak dari lubang angin itu. Ternyata semua kawan merasakan hal sama. Sepekan kemudian, Andi Arief kini Komisaris PT Pos Indonesia diculik di Lampung. Setelah disekap di tempat “X”, dia terdampar juga di Polda Metro Jaya. Sampai hari ini, peritiwa itu menjadi mimpi buruk bagi kami, terutama mengenang sejumlah kawan yang hilang dan tak pernah pulang. Mereka adalah Herman Hendrawan, Bima Petrus, Suyat, dan Wiji Thukul. Setelah reformasi pada 1998, satu regu Kopassus yang disebut Tim Mawar sudah dihukum untuk kejahatan penculikan ini. Adapun Dewan Kehormatan Perwira memberhentikan bekas Danjen Kopassus Letnan Jenderal Prabowo sebagai perwira tinggi TNI. Prabowo mengaku hanya mengambil sembilan orang. Semuanya hidup, dan sudah dibebaskan. Pada 1999, majalah ini mewawancarai Sumitro Djojohadikusumo, ekonom dan ayah kandung Prabowo. Dia mengatakan penculikan dilakukan Prabowo atas perintah para atasannya. Siapa? “Ada tiga Hartono, Feisal Tanjung, dan Pak Harto,” ujar Sumitro. Lalu kini apakah kami, rakyat Indonesia, harus memaafkan Soeharto? Doa saya untuk kawan-kawan yang belum atau tidak kembali. [Nezar Patria TEMPO] Sumber facebook Muhanto Hatta Post Views 1,075
TempatPenyiksaan Orde Baru Crime TeachersPayTeachers Prison - United States - Barbwire Transparent Images is a 3008x2000 PNG image with a transparent background.
Ada perintah pada masa Orde Baru, untuk menculik sejumlah aktivis mahasiswa. Empat orang dari mereka yang diculik belum kembali sampai hari ini. Wartawan Tempo Nezar Patria, pada 1997 adalah aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi yang menjadi satu dari korban penculikan yang selamat. Berikut adalah pengalamannya PERISTIWA itu terjadi sepuluh tahun lalu, tapi semuanya masih tetap basah dalam ingatan. Kami berempat Aan Rusdianto, Mugiyanto, Petrus Bima Anugerah, dan saya adalah anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi SMID.Baru sepuluh hari kami bertempat tinggal di rumah susun Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur itu. Tak seorang tetangga pun tahu bahwa kami anggota gerakan dituding sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996 tapi tak pernah terbukti di pengadilan, SMID dan semua organisasi yang berafiliasi ke Partai Rakyat Demokratik PRD dinyatakan oleh pemerinah sebagai organisasi terlarang. Sejak itu, hidup kami terpaksa berubah. Kami diburu aparat keamanan Orde Baru. Maka, tak ada jalan lain kecuali bergerak gaya bawah tanah. Nama asli berganti alias. Setiap kali berpindah rumah, harus menyaru sebagai pedagang buku atau terdengar suara ketukan. Begitu Aan membuka pintu, empat lelaki kekar merangsek masuk. Mereka menyergap dan memiting tangan Aan. Saya kaget. Sekelebat saya melongok ke arah jendela. Kami berada di lantai dua, dan di bawah sana sejumlah ”tamu tak diundang” sudah menunggu. Baca lebih lajutMajalah Tempo » Loading news...Failed to load depan, tiket kereta jarak jauh bisa dipesan H-90 keberangkatan - ANTARA NewsANTARA - PT Kereta Api Indonesia KAI memperpanjang periode pemesanan tiket kereta api jarak jauh. Per 10 Juni 2023, Vice President of Public Relations KAI ... Baca lebih lajut >> Informasi Daya Tampung PTN untuk Mahasiswa Baru di Permendikbud 6/2020PTN menetapkan dan mengumumkan jumlah Daya Tampung mahasiswa baru untuk SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi lainnya, dengan aturan sebagai berikut ~ EdukasiBieber akan Rilis Album Baru di Hari ValentineChanges merupakan album studio kelima Bieber yang ditelurkan setelah album terakhirnya, Purpose, yang dirilis pada akhir 2015. 🇮🇩🤝🇲🇾Babak Baru Penyelidikan Kasus Prostitusi Anak di Kalibata CityTidak hanya mengejar satu tersangka lain, polisi juga menemukan beberapa fakta baru dan pemeriksaan saksi-saksi Wabah Korona Baru Terkendali di ASAS sudah mengevakuasi warganya dari China beberapa hari yang Baru Pulang dari China Dirawat di RSUD dr Soedono MadiunHY, mahasiswi asal Madiun mengalami sakit batuk dan pilek setelah pulang dari Beijing, China. CoronaABK yang Baru Pulang dari China Dirawat di RSU Soetomo Negatif Virus Corona'Pasien itu tidak terindikasi virus corona. Pasien itu adalah terindikasi lebih kepada sakit jantung dan sakit livernya,' kata kata Humas RSU dr Soetomo Surabaya dr Pesta Parulin. VirusCorona
PenyiksaanOrde Baru” susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007. Neraka Rezim Suharto Misteri Tempat Neraka Rezim Suharto: Misteri Tempat-tempat Penyiksaan Orde Baru Indonesia pernah menjadi neraka. Terutama bagi orang-orang kritis yang berani melawan penguasa. Untuk melanggengkan kekuasaannya, rezim Orde
penyiksaan Tags: Question 11 . SURVEY . 180 seconds . Q. Pada saat itu juga, masjid dan gereja yang dibangun di samping kuil, mematikan beberapa lampunya. Mereka juga mengadakan kegiatan pengajian atau sembahyangan tanpa pengeras suara utama. Pembredelan media massa pada masa Orde Baru merupakan pelanggaran hak warga negara dalam
DiKuil Penyiksaan Orde Baru Penyiksaan Orde Baru Ilustrasi Soeharto PERISTIWA itu terjadi sepuluh tahun lalu, tapi semuanya masih tetap basah dalam ingatan. Kami berempat: Aan Kuilkekaisaran Wilayah Kota Lama Ketika blitzkrieg Asia Jepang dengan cepat menyapu berabad-abad pemerintahan kolonial di Asia Tenggara, para penakluk baru dengan cepat mengambil beberapa real estat terbaik untuk diri mereka sendiri. Di Semarang, Jepang mengambil alih Lawang Sewu, dengan Kempeitai menggunakan ruang bawah tanah Gedung B .
  • gg4sirs4b2.pages.dev/270
  • gg4sirs4b2.pages.dev/463
  • gg4sirs4b2.pages.dev/346
  • gg4sirs4b2.pages.dev/486
  • gg4sirs4b2.pages.dev/172
  • gg4sirs4b2.pages.dev/472
  • gg4sirs4b2.pages.dev/14
  • gg4sirs4b2.pages.dev/322
  • di kuil penyiksaan orde baru